Minggu, 21 Januari 2018

Konsep TPACK Pada Dunia Pendidikan

Jurnal penelitian dari Mishra dan Koehler (2006) dengan judul Technological Pedagogical Content Knowledge : A framework for Teacher Knowledge, sampai saat ini telah menjadi acuan oleh banyak peneliti dan praktisi pendidikan dalam upaya mengembangkan beberapa model pembelajaran.  Istilah yang kemudian dikenal dengan TPACK (Technological, Pedagogical, Content Knowledge) adalah sebuah framework (kerangka kerja) dalam mendesain model pembelajaran baru dengan menggabungkan tiga aspek utama yaitu teknologi, pedagogi dan konten/materi pengetahuan (ontologis).
Kemajuan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya, adalah sebuah keniscayaan bahwa guru harus menguasai teknologi untuk kemudian digunakan sebagai media pendukung dalam kegiatan pembelajaran.  Beberapa contoh penerapan teknologi dalam pembelajaran adalah seperti gagasan yang ditawarkan oleh NACOL (North American Council for Online Learning), yaitu model pembelajaran campuran (blended learning).  Pada model ini pembelajaran tidak terfokus pada kegiatan tatap muka dikelas (face to face), tetapi menggunakan juga teknologi berbasis web (online learning) untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dikelas.  Blended learning akhirnya menjadi model pembelajaran yang cukup efektif,  suasana yang jenuh belajar dikelas dapat diatasi dengan kegiatan belajar yang menyenangkan dan interaktif secara online.  Penggunaan teknologi yang  berbasis web ini mungkin terbilang cukup mahal, karena membutuhkan perangkat elektronik seperti komputer, laptop ataupun smart phone.  Namun teknologi yang dimaksudkan dapat juga berupa alat-alat peraga (tools) hasil pengembangan kreatifitas para guru, dan tetap mengacu pada kebaruan teknologi. 

Senin, 11 September 2017

Menjadikan Kalimantan Sebagai Pusat Energi Listrik Nasional

Pada tanggal 3 pebruari 2010 yang lalu, diselenggarakan acara diskusi di Jakarta dengan tema "PLTN Menjamin Ketahanan Penyediaan Listrik Nasional".  Acara  tersebut dihadiri oleh mantan Presiden RI ke-3 BJ Habibie, dalam kesempatan itu  BJ. Habibie memberikan pidato kunci (keynote address) yang diantaranya mengatakan bahwa,  Proyeksi energi Indonesia pada tahun 2045  adalah sekitar 483 persen dari konsumsi energi saat ini. Sedangkan saat ini saja kebutuhan akan energi sangat sulit dipenuhi.  Penyelenggara diskusi adalah masyarakat peduli energi dan lingkungan (MPEL), sebuah LSM yang aktif dalam sosialisasi dan diseminasi informasi mengenai pentingnya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir)  sebagai salah satu alternatif sumber energi masa depan di negeri ini. Sehingga tidak ada lagi krisis energi yang berakibat pemadaman listrik bergilir, perekonomian terganggu dan lain sebagainya.
Dibutuhkan kesadaran semua pihak menghadapi krisis energi listrik, dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi selaku tenaga pemikir dan masyarakat.  Krisis energi harus cepat  dicari pemecahannya, tidak harus menunggu satu dekade lebih untuk mulai bertindak.  Sebab untuk melangkah menjadi negara maju ketersedian energi  adalah sangat mutlak dibutuhkan.

Antara Tuhan, Ilmu Pengetahuan Alam dan Komunisme

Diantara judul lagu Iwan Fals yang menjadi hit pada  era tahun 90-an adalah ; “Antara aku, kau dan bekas pacarmu”.   Judul yang unik ini menjadi inspirasi bagi penulis untuk membuat  judul artikel yang telah tersebutkan diatas yaitu ; “Antara Tuhan, Ilmu Pengetahuan Alam dan Komunisme”.   Penulis mengajak untuk mem-browsing kembali tentang ke-Tuhanan, perkembangan terakhir Ilmu Pengetahuan alam (Natural science) dan bergairahnya faham komunisme yang mulai terlihat di beberapa situs jejaring sosial facebook atau beberapa tulisan para bloger di dunia maya.
Ke-Tuhanan adalah sebuah ungkapan keyakinan kepada Sang “pengada” yakni Tuhan.  Keyakinan kepada Tuhan ini lantas diikuti dengan berbagai ritual ke-agamaan (ibadah) sebagai wujud, tunduk dan patuh terhadap segala yang diperintahkan.  Keyakinan kepada Tuhan tidak lepas oleh pembawa risalah yaitu para Nabi dan Rasul yang diutus-Nya  bersama kitab suci, untuk kemudian memberi petunjuk/hidayah kepada seluruh umat manusia.  Kita mengenal pembawa risalah, diantaranya Isa al masih (Nasrani) dan Muhammad SAW (Islam). 

Pisah Kenang Menteri Pendidikan Nasional Muhamad M. Nuh

Ciri masyarakat terdidik itu tidak dengan gelar-gelar, entah itu profesor, doktor, tetapi lebih fungsional. Ciri pertama, apakah orang itu kalau dihadapkan pada suatu persoalan, pola pikirnya seperti apa?. Kalau pola pikirnya how to solve the problem, menurut saya, itu sudah memenuhi kriteria well educated. Namun, kalau pola pikirnya how to create the new problem, maka meskipun dia profesor, meskipun dia doktor, dia belum well educated. Ada orang: apabila menemukan persoalan, dia bukan mencari solusi terhadap persoalan, tetapi persoalannya yang dipersoalkan. Karena tak bisa menyelesaikan, maka persoalannya dipersoalkan. Kami tak ingin itu, sebab rumus.kebutuhan persoalan itu adalah penyelesaian Ciri ke-2 0rang/masyarakat yang well educated, jika menyelesaikan persoalan, biayanya rendah, baik society, political, maupun economical cost-nya. Kalau biaya penyelesaiannya mahal, berarti masyarakat itu belum well educated sebab masih ada cost effectiveness. Cirike-3, dalam selesaikan persoalan,the society yang well educated tak mau menabrak aturan/segala etika terkait dengan kesepakatan nilai-nilai kemuliaan. Jika dengan biaya rendah, dalam penyelesaian persoalan harus menabrak aturan sampai etika, masyarakat itu pun belum termasuk kategori well educated.