Senin, 11 September 2017

Antara Tuhan, Ilmu Pengetahuan Alam dan Komunisme

Diantara judul lagu Iwan Fals yang menjadi hit pada  era tahun 90-an adalah ; “Antara aku, kau dan bekas pacarmu”.   Judul yang unik ini menjadi inspirasi bagi penulis untuk membuat  judul artikel yang telah tersebutkan diatas yaitu ; “Antara Tuhan, Ilmu Pengetahuan Alam dan Komunisme”.   Penulis mengajak untuk mem-browsing kembali tentang ke-Tuhanan, perkembangan terakhir Ilmu Pengetahuan alam (Natural science) dan bergairahnya faham komunisme yang mulai terlihat di beberapa situs jejaring sosial facebook atau beberapa tulisan para bloger di dunia maya.
Ke-Tuhanan adalah sebuah ungkapan keyakinan kepada Sang “pengada” yakni Tuhan.  Keyakinan kepada Tuhan ini lantas diikuti dengan berbagai ritual ke-agamaan (ibadah) sebagai wujud, tunduk dan patuh terhadap segala yang diperintahkan.  Keyakinan kepada Tuhan tidak lepas oleh pembawa risalah yaitu para Nabi dan Rasul yang diutus-Nya  bersama kitab suci, untuk kemudian memberi petunjuk/hidayah kepada seluruh umat manusia.  Kita mengenal pembawa risalah, diantaranya Isa al masih (Nasrani) dan Muhammad SAW (Islam). 
Dalam konsep Islam, terbukanya pintu hidayah untuk percaya kepada Tuhan dengan melaksanakan segala perintah-Nya, selain melalui kitab suci juga karena hak Tuhan sebagai “al-Hadi” pemberi petunjuk / hidayah.   Pemberian petunjuk inilah yang kemudian dapat berupa fenomena-fenomena  yang terlihat dialam, selanjutnya dijadikan bahan perenungan untuk percaya keberadaan Tuhan.
Perkembangan ilmu pengetahuan alam pada awal abad ke-20 hingga sekarang ini,  telah mengarah kepada sesuatu yang sifatnya absurd.  Terjadinya kebuntuan terhadap hasil-hasil penelitian tingkat tinggi, oleh sebagian para scientist akhirnya menyebut nama Tuhan.  Dalam sejarah, Albert Einstein ketika mengakhiri debat dengan Niels Bohr tentang konsep atom sempat melontarkan kalimat yang terkenal ; “Tuhan sedang tidak bermain dadu”.  Bukan karena putus asa, namun demikianlah hukum sains yang akhirnya berbenturan dengan kekuasaan Tuhan yang Maha pencipta.  Dan sampai  saat ini,  konsep atom belum begitu memuaskan dan hanya sampai pada teori probability (kebolehjadian) yang dirumuskan oleh Erwin Schrodinger dalam mekanika kuantum.  Demikian halnya struktur padatan kristal yang sangat teratur dan menakjubkan melalui analisa difraksi  sinar X (X-Ray Diffraction) atau sinar infrared,  oleh sebagian Ilmuan yang masih “malu-malu” menyebut nama Tuhan,  akhirnya dikatakannya  sebagai perbuatan alam. Inilah  beberapa contoh perkembangan Ilmu pengetahuan alam yang dengan sendirinya bergerak menuju ke sebuah entitas yakni Tuhan.
Bagi yang mengetahui dan mengerti terhadap gejala-gejala yang tampak di alam  (phenomena) akan menjadi pelajaran tersendiri bahwa Tuhan itu ada.  Seseorang akhirnya “bertemu” Tuhan dalam sebuah atom yang mikroskopis, atau seseorang dapat “bercinta” dengan Tuhan ketika larut dalam studi-studi penelitian di laboratorium.  Sebagai contoh adalah seorang ahli bedah perancis bernama Maurice Bucaille yang pernah menganalisis mumi fir’aun pada tahun 1975, ia menemukan kristal-kristal garam pada tubuh mumi yang menunjukkan bahwa matinya fira’un karena tenggelam, akhirnya membawa ahli bedah perancis ternama ini mempercayai kitab suci (al-Qur’an),  sebagai kitab yang sudah terlebih dahulu menjelaskan, jauh sebelum mumi ditemukan dan dianalisis.  
Sulit untuk tidak percaya kepada Tuhan,  kalimat ini sepertinya menjadi gambaran  para ilmuan sekarang yang telah berkecimpung dalam dunianya.  Mungkin dalam sejarah bisa dihitung dengan jari ilmuan yang berusaha keras menolak keberadaan Tuhan, diantaranya adalah Charles Robert Darwin, ilmuwan kelahiran Shrewsbury Inggris yang berusaha memperjelas teori evolusi dari evolusionis sebelumnya, Lamark.
Dalam bukunya,  The Origin of Species By Mean Of Natural Selection yang diterbitkan pada tahun 1859, Darwin mengatakan bahwa spesies-spesies makhluk hidup dibumi muncul menjadi ada, karena dikendalikan sepenuhnya oleh faktor kebetulan.  Buku yang akhirnya menjadi terkenal dan laris pada zamannya ini, lebih dikarenakan idiologis yang ada pada buku dan bukan karena nilai ilmiahnya.  Buku ini menjadi dukungan terhadap filsafat materialisme yang menolak keberadaan Tuhan.  Pendiri materialisme Karl Mark sempat mempersembahkan bukunya Das Kapital kepada Darwin dan menuliskan kalimat dihalaman sampulnya ; “kepada Charles Robert Darwin, dari seorang pengagum setia”.
Teori evolusi Darwin  telah lama gugur memasuki awal abad 20, namun para penganut evolusionis berusaha mempertahankan teori ini,  dengan segala cara dan tipu daya.  Fosil  Piltdown Forgery yang ditemukan pada tahun 1912, dianggap bukti kebenaran teori evolusi manusia hingga ditontonkan dalam museum selama lebih 30 tahun,  namun setelah dilakukan penelitian ulang pada pertengahan abad 20, ternyata hanya tipuan belaka, fosil hanyalah  berupa tengkorak manusia zaman sekarang yang direkatkan dengan tengkorak kera.  Demikian juga fosil Zinzantrophus pada tahun 1959 ditolak kebenarannya pada tahun 1960, Ramapithecus pada tahun 1964 ditolak secara ilmiah pada tahun 1979.  Teori yang jelas menolak keberadaan Tuhan ini sudah selayaknya dibenamkan dan dikeluarkan dari  kajian-kajian ilmiah karena tak satupun bukti mendukung teori ini.  Hal ini dibenarkan juga oleh Paleontologist asal Inggris Derek Ager yang menyatakan ; “Jika kita meneliti catatan-catatan  fosil baik dari tingkat ordo hingga  spesies,  bukan  suatu evolusi bertahap, tetapi suatu ledakan populasi disertai dengan kepunahan spesies lain”,  sebuah pernyataan yang cukup telak untuk menggugurkan Darwinisme, sebuah faham dalam khazanah ilmu pengetahuan alam yang sangat berseberangan dengan teori penciptaan.
Darwinisme dan Komunisme lahir pada zaman yang sama,  pendirinya Charles Robert Darwin dan Karl Mark mempunyai kesamaan dalam cara pandang.  Pemikiran keduanya sama-sama berlandaskan dialektika materi, menolak segala ideologi yang keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi)  oleh karenanya agama dipandang sebagai “candu” yang membuat orang berangan-angan.  Sesuatu yang akhirnya melekat pada komunisme kemudian adalah atheis (menolak keberadaan Tuhan).
Komunisme sendiri merupakan ideologi yang pada awal kelahirannya menolak kapitalisme. Dalam perkembangan selanjutnya mengalami perubahan dan muncul beberapa faksi internal dalam komunisme, antara penganut komunis teori dengan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangannya yang  berbeda dalam pencapaian  menuju  masyarakat sosialis.  Seperti halnya  komunisme di Tiongkok,  oleh Mao Zedong menyatukan berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang kemudian lahir sebagai Maoisme.
Sekarang ini,  ada upaya memperkenalkan kembali komunisme di Indonesia, terlihat dibeberapa situs jejaring sosial facebook, micro-blog seperti twitter, maupun tulisan beberapa bloger.  Menurut hemat penulis, ini adalah sebuah reaktifitas yang wajar terhadap dunia per-politikan di Indonesia.  Adalah lumrah ketika sebagian anak bangsa menabuh genderang perang terhadap kapitalisme yang dinilai mengebiri hak-hak kaum buruh dan rakyat pinggiran.  Penulis percaya, mereka adalah kaum intelektual muda yang mengakui kehancuran Darwinisme dan masih mengakui keberadaan Tuhan, komunisme hanya disuarakan sebagai alat perjuangan untuk mengusir kapitalisme di Indonesia. Selanjutnya tinggal bagaimana  Pemerintah saat sekarang harus bersikap.  (Mahbub Alwathoni Posted Pontianak Post 2009).
x