Senin, 11 September 2017

Pisah Kenang Menteri Pendidikan Nasional Muhamad M. Nuh

Ciri masyarakat terdidik itu tidak dengan gelar-gelar, entah itu profesor, doktor, tetapi lebih fungsional. Ciri pertama, apakah orang itu kalau dihadapkan pada suatu persoalan, pola pikirnya seperti apa?. Kalau pola pikirnya how to solve the problem, menurut saya, itu sudah memenuhi kriteria well educated. Namun, kalau pola pikirnya how to create the new problem, maka meskipun dia profesor, meskipun dia doktor, dia belum well educated. Ada orang: apabila menemukan persoalan, dia bukan mencari solusi terhadap persoalan, tetapi persoalannya yang dipersoalkan. Karena tak bisa menyelesaikan, maka persoalannya dipersoalkan. Kami tak ingin itu, sebab rumus.kebutuhan persoalan itu adalah penyelesaian Ciri ke-2 0rang/masyarakat yang well educated, jika menyelesaikan persoalan, biayanya rendah, baik society, political, maupun economical cost-nya. Kalau biaya penyelesaiannya mahal, berarti masyarakat itu belum well educated sebab masih ada cost effectiveness. Cirike-3, dalam selesaikan persoalan,the society yang well educated tak mau menabrak aturan/segala etika terkait dengan kesepakatan nilai-nilai kemuliaan. Jika dengan biaya rendah, dalam penyelesaian persoalan harus menabrak aturan sampai etika, masyarakat itu pun belum termasuk kategori well educated. 

Sebaliknya masyarakat itu disebut terdidik kalau dalam menyelesaikan berbiaya murah, dengan tetap menjaga aturan dan etika. Dan yang terakhir cirinya adalah kebisaan itu tepat pada waktunya. Ada orang yang biasa mengalami keterlambatan, itu ibarat dalam ujian. Taruhlah waktu ujian pukul 09.00-11.00, yang penting di dalam rentangan pukul 9-11 itu yang bersangkutan bisa mengerjakan soal. Yang sering kita jumpai, setelah pukul 11.00 tetaplah jawaban yang tadi sudah dikerjakan, dan dianggap selesai. Orang macam ini tidak termasuk well educated. Jadi, well educated atau yang terdidik itu bisa mengerjakan pada saat ditetapkan jadi timely proper. Itulah peran pertama yang kita harapkan dari media massa. Mempunyai peran untuk edukasi. Peran ini belum cukup. Peran yang kedua adalah bagaimana memberdayakan, how to empower seluruh potensi yang kita miliki. Sehingga media massa tak lagi sekadar how to strengthen pilar-pilar yang ada dalam masyarakat, tetapi juga ikut memberdayakan, ikut empowering. Ibrat anak,jika kakinya sudah kuat, lari pun bisa.Jika kakinya tak biasa diberdayakan menendang bola,dia pun tak bisa menendang dengan kecepatan tertentu. Peran ke-3. Seringkalii perkara kita rumit, maka media mohon tidak nambah kerumitan. Saya bukan politisi, dan tidak paham tentang ilmu politik Namun, setiap kali ada seseorang mengomentari kejadian politik, saya tersenyum, karena kebetulan saya ada di tempat kejadian. Yang sedang dibahas perpolitikan seperti apa dan yang dibahas seperti apa, sering sama sekali tidak nyambung.sering menggunakan akal pikirannya sendiri, tidak tentang fenomena itu. Mengapa? Karena para analis dalam menganalisis fenomena/kejadian politik sering menggunakan akal pikirannya sendiri, tidak tentang fenomena itu. Fenomena dipaksa diterjemahkan sesuai dengan alam pikirannya sendiri. Tak diterjemahkan ke kejadian sebenarnya sehingga kadang-kadang tidak nyambung. Dari situlah, kerumitan bertambah rumit, padahal yang kita butuhkan adalah pencerahan. Itulah 3 fungsi media: edukasi, pemberdayaan, dan pencerahan kita dedikasikan untuk membangun kenasionalan kita, bangsa kita.