Senin, 11 September 2017

Menjadikan Kalimantan Sebagai Pusat Energi Listrik Nasional

Pada tanggal 3 pebruari 2010 yang lalu, diselenggarakan acara diskusi di Jakarta dengan tema "PLTN Menjamin Ketahanan Penyediaan Listrik Nasional".  Acara  tersebut dihadiri oleh mantan Presiden RI ke-3 BJ Habibie, dalam kesempatan itu  BJ. Habibie memberikan pidato kunci (keynote address) yang diantaranya mengatakan bahwa,  Proyeksi energi Indonesia pada tahun 2045  adalah sekitar 483 persen dari konsumsi energi saat ini. Sedangkan saat ini saja kebutuhan akan energi sangat sulit dipenuhi.  Penyelenggara diskusi adalah masyarakat peduli energi dan lingkungan (MPEL), sebuah LSM yang aktif dalam sosialisasi dan diseminasi informasi mengenai pentingnya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir)  sebagai salah satu alternatif sumber energi masa depan di negeri ini. Sehingga tidak ada lagi krisis energi yang berakibat pemadaman listrik bergilir, perekonomian terganggu dan lain sebagainya.
Dibutuhkan kesadaran semua pihak menghadapi krisis energi listrik, dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi selaku tenaga pemikir dan masyarakat.  Krisis energi harus cepat  dicari pemecahannya, tidak harus menunggu satu dekade lebih untuk mulai bertindak.  Sebab untuk melangkah menjadi negara maju ketersedian energi  adalah sangat mutlak dibutuhkan.
Mengutip dari buku the best seller The Turning Point, Fritjof Capra 1997,  Armory Lovins seorang fisikawan dan konsultan energi,  membagi kebijakan-kebijakan energi dalam dua istilah, yakni “jalur energi keras” dan “jalur energi lunak”.  Jalur energi keras, adalah energi yang dihasilkan dari sumber daya alam – minyak, gas alam, batu bara dan uranium.  Sedangkan jalur energi lunak mempunyai tiga komponen utama ; konversi energi dengan penggunaan energi yang lebih efisien, pemanfaatan sumber energi yang tidak dapat diperbarui dengan bijaksana, dan pengembangan secara pesat teknologi-teknologi lunak untuk produksi energi dari sumber-sumber energi yang bisa diperbaruhi.  Selanjutnya Fritjof Capra menggiring kita untuk memikirkan energi alternatif yang bersih, ekonomis dan aman bagi lingkungan yang bisa diperbarui  yakni energi surya.  
Banyaknya sumber energi  membuat kita banyak pilihan,  memilih yang tepat dan tersesuaikan dengan kondisi wilayah Indonesia, tentunya  dengan pertimbangan sisi ekonomi, ramah lingkungan dan sumber daya manusia yang dimiliki.  Jalur energi keras, berupa bahan bakar fosil (minyak bumi), biodiesel, batubara, gas alam  menyebabkan polutan CO2 semakin meningkat, kompensasi berupa global warming adalah sesuatu yang harus diterima.  Demikian juga pemanfaatan  “energi raksasa”  uranium, konsekuensi yang harus diterima  adalah  pencemaran debu radioaktif yang berdampak negatif terhadap kesehatan.  Untuk  jalur energi lunak,  berupa pemanfaatan bio ethanol, diyakini lebih aman karena buangan CO2 lebih sedikit dibandingkan bahan bakar fosil, batubara dan biodiesel, namun diperlukan kebijaksanaan pemerintah secara serius, untuk mengikutsertakan masyarakat petani dalam mensuplai alkohol.  Sedangkan untuk energi surya,  Indonesia sesungguhnya adalah  wilayah yang tepat  untuk membangun proyek energi surya sebab mendapat  pancaran dengan baik sinar matahari.  Permasalahannya,  sel-sel fotovoltaek yang merupakan piranti untuk mengkonversi energi surya menjadi energi listrik  adalah sangat mahal.
Indonesia adalah negara yang memiliki bahan-bahan mineral yang cukup melimpah, yang sesungguhnya masih belum tergali dan belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya.  Diantaranya adalah uranium (U),  yang tersimpan di perut bumi melawi kalimantan barat dan beberapa tempat di wilayah Indonesia.  Berdasarkan klasifikasi dari BATAN, untuk  deposit uranium yang tersimpan di melawi digolongkan sebagai  DSP (Daerah Sumberdaya Potensial).
Uranium  adalah salah satu unsur logam radioaktif, ditemukan pertama kali oleh Martin Klaproth ilmuan Jerman pada tahun 1789.  Secara kimia-fisik  uranium memiliki titik didih 4405,3 oK atau setara dengan 4131oC, dengan density (kerapatan) 19,1 g/cc.  Uranium diambil energinya melalui reaksi fisi terkendali terhadap isotop U235. gambaran secara sederhana terjadinya reaksi adalah,  mula-mula sebuah inti U235 ditembak oleh partikel neutron (0n1) selanjutnya uranium U235 akan membelah menjadi dua inti yang lebih ringan, dalam reaksi ini selalu didapat massa total dari produk lebih kecil daripada massa reaktan,  selisih massa inti ini akan muncul sebagai energi kurang lebih sebesar 208 MeV (Million electron Volt).  Energi ini tentunya masih kecil, namun jika 1 kilogram uranium mengalami reaksi fisi (disintegrasi nucleon),  maka secara matematis akan didapatkan energi sebesar 5,32 x 1026 MeV.  Untuk membandingkan manfaat energi listriknya, 1 MeV setara dengan 4,45 x 10-20 kWh (killo Watt hour).  Dan jika 1 kg uranium  dikonversi dalam bentuk energinya akan dihasilkan energi sebesar 2,37 x 107 kWh.  Energi ini dapat digunakan untuk menjaga lampu 100 Watt agar tetap menyala selama 30.000 tahun lamanya.
Berdasarkan hasil penelitian BATAN, cadangan Uranium di kabupaten Melawi terukur sebanyak 900 ton atau setara 700 ton Uranium metal (U235) (sumber ; ANTARA news. 2006).  Bisa dibayangkan jika 1 kg Uranium saja dapat menghasilkan energi kurang lebih  2,37 x 107 kWh,  bagaimana jika 700 ton?. 
Yang menjadi permasalahan sejak dulu hingga sekarang adalah pro dan kontra terhadap pemanfaatan energi atom ini. Masyarakat masih banyak yang tidak tahu, dan sebagian lagi memandang atom adalah sosok yang menyeramkan. Hal ini bisa dimaklumi mengingat tragedi-tragedi kemanusiaan akibat energi atom sangat besar dampaknya,  seperti tragedi jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh militer Amerika Serikat di tahun 1945, serta tragedi bocornya reaktor nuklir di Chernobyl, Uni Soviet (Rusia) pada tahun 1986  yang menelan banyak korban akibat terkena radiasi.
Sumber energi listrik dari bahan bakar fosil, batubara dan biodiesel, berdampak sangat luas hingga mengglobal dan masyarakat dunia harus membayarnya dengan perubahan iklim global yang saat ini sedang terjadi.  Sedangkan  pemanfaatan uranium  berakibat buruk bagi kesehatan namun dengan cakupan luas spektrum yang lebih kecil. Dengan mengisolasi daerah pertambangan  dan reaktor nuklir dari masyarakat,  diharapkan “tragedi Modern Amerika” yang pernah terjadi di tanah Indian Navajo Amerika serikat tidak terjadi lagi, dan masyakarat melawi atau daerah pertambangan uranium lainnya tetap aman dari kontaminasi racun-racun  partikel radioaktif.
Permasalahan selanjutnya adalah lokasi reaktor nuklir-nya.  Jawa sepertinya sudah tidak tepat lagi, mengingat pulau dengan jumlah penduduk terpadat didunia ini rentan terhadap aktifitas geologi (gempa).  Lokasi yang menjanjikan untuk mega proyek nuklir dimasa yang akan datang adalah Kalimantan, wilayah ini aman dari gempa selain bahan baku berupa uranium tersedia didaerah ini.  Demikian halnya jika dilihat dari titik koordinat wilayah Indonesia, dengan sambungan kabel bawah laut seperti halnya proyek pembangunan serat optik yang menghubungkan Surabaya – Hongkong, dapat juga diterapkan untuk distribusi listrik sambungan bawah laut keseluruh wilayah Indonesia. (Mahbub Alwathoni - Posted Pontianak Post 2009).